Lewati ke konten
Materi Pembelajaran

Belajar santun, bukan sekadar menghindari kata kasar.

Kesantunan ditentukan oleh cara kita menyampaikan maksud: langsung atau tidak, literal atau tidak, dan prinsip apa yang kita jaga terhadap lawan bicara. Pelajari polanya, lalu uji kalimatmu sendiri.

PETA MATERI
2 Strategi
2 Teknik
4 Kombinasi
6 Prinsip
Cocok untuk kelas SD, SMP, dan SMA
Pengantar

Mengapa cara bicara itu penting?

Setiap orang punya "muka" (face), yaitu citra diri yang ingin dihargai (muka positif) dan kebebasan untuk tidak dipaksa (muka negatif). Ujaran seperti perintah, kritik, atau ejekan berpotensi mengancam muka lawan bicara (Brown & Levinson, 1987).

Penutur yang santun mengelola ancaman itu lewat tiga hal: strategi (langsung atau tidak langsung), teknik (literal atau tidak literal), dan prinsip yang dijaga, misalnya kedermawanan, kerendahan hati, dan kesimpatisan (Leech, 1983).

Strategi Kesantunan

Langsung vs Tidak langsung

Bagaimana maksud disampaikan: sesuai atau tidak dengan bentuk kalimatnya?

Langsung

Bentuk kalimat sesuai dengan fungsinya: perintah disampaikan dengan kalimat perintah, pertanyaan dengan kalimat tanya, informasi dengan kalimat berita.

“Tolong matikan musiknya.”
Meminta teman mengecilkan suara saat belajar bersama.

Jelas dan efisien, tetapi lebih berisiko terasa memerintah. Tambahkan pelunak seperti "tolong", "boleh", atau "maaf" agar tetap santun.

Uji contoh ini di Playground →

Tidak langsung

Maksud disampaikan dengan bentuk kalimat lain: perintah dibungkus sebagai pertanyaan atau pernyataan, sehingga lawan tutur diberi ruang untuk memilih.

“Kayaknya musiknya agak kencang ya, aku lagi susah fokus nih.”
Situasi sama, tetapi permintaan disampaikan lewat pernyataan.

Umumnya terasa lebih santun karena menjaga "muka negatif" (kebebasan) lawan tutur. Namun, jika terlalu samar, pesan bisa tidak tertangkap.

Uji contoh ini di Playground →
Teknik Kesantunan

Literal vs Tidak literal

Apakah makna kata-katanya sama dengan maksud penutur?

Literal

Makna kata-kata yang diucapkan sama dengan maksud penutur. Apa yang dikatakan, itulah yang dimaksud.

“Presentasimu tadi keren, rapi banget slide-nya!”
Memuji teman setelah presentasi, dan memang bermaksud memuji.

Mudah dipahami dan minim salah paham, cocok untuk apresiasi dan permintaan maaf.

Uji contoh ini di Playground →

Tidak literal

Makna kata-kata berbeda atau berlawanan dengan maksud penutur, misalnya sindiran, sarkasme, ironi, atau kiasan.

“Wah, cepet banget ya balesnya, sampai aku udah lulus duluan. 🙂”
Teman lama sekali membalas chat; kalimat "memuji" padahal menyindir.

Sering terasa lucu di antara teman dekat, tetapi mudah melukai bila hubungan belum akrab. Ini juga jenis ujaran yang paling sulit dibaca, baik oleh manusia maupun model AI.

Uji contoh ini di Playground →
Kombinasi

Matriks Strategi × Teknik

Strategi dan teknik dapat dipadukan menjadi empat jenis tuturan (Wijana, 1996). Situasi: kamu ingin teman segera membalas chat grup tugas kelompok.

Langsung

Langsung literal

Cenderung santun

“Tolong balas chat grup ya, kita mau bagi tugas.”

Kalimat perintah, maknanya sesuai maksud. Paling jelas; pelunak "tolong" membuatnya santun.

Uji di Playground →

Langsung tidak literal

Berisiko tidak santun

“Nggak usah dibales deh, santai aja, tugasnya juga nggak penting kok.”

Kalimat perintah yang maknanya berlawanan dengan maksud (sarkasme). Berisiko mengancam muka.

Uji di Playground →
Tidak langsung

Tidak langsung literal

Cenderung santun

“Kamu udah sempat lihat chat grup belum?”

Kalimat tanya yang berfungsi sebagai permintaan. Memberi ruang, sehingga terasa sopan.

Uji di Playground →

Tidak langsung tidak literal

Tergantung konteks

“Wah, HP-nya pasti lagi sibuk banget ya sampai nggak sempat buka grup.”

Pernyataan yang menyindir. Halus di permukaan, tetapi bisa terbaca sebagai kritik terselubung.

Uji di Playground →

Label "cenderung santun / berisiko" adalah panduan umum. Kesantunan tetap bergantung pada hubungan dan konteks penutur.

Prinsip Kesantunan

Enam prinsip yang menjaga hubungan baik

Prinsip-prinsip (maksim) kesantunan Leech (1983). Setiap prinsip menyeimbangkan keuntungan dan kerugian antara diri sendiri dan orang lain.

Prinsip Kebijaksanaan

Tact maxim

Kurangi kerugian bagi orang lain, perbesar keuntungan bagi orang lain.

Menerapkan“Kalau kamu lagi capek, biar aku yang rangkum materinya dulu ya.”
Melanggar“Pokoknya kamu yang rangkum, aku nggak mau tahu.”

Tips: Saat meminta, beri pilihan dan pertimbangkan beban yang ditanggung teman.

Prinsip Kedermawanan

Generosity maxim (maksim kemurahan hati)

Kurangi keuntungan bagi diri sendiri, perbesar pengorbanan diri sendiri.

Menerapkan“Aku bawain charger cadangan, kalau ada yang butuh pakai aja.”
Melanggar“Charger aku cuma buat aku, cari sendiri sana.”

Tips: Tawarkan bantuan sebelum diminta; utamakan kepentingan bersama.

Prinsip Penghargaan

Approbation maxim (maksim pujian)

Kurangi kecaman terhadap orang lain, perbesar pujian kepada orang lain.

Menerapkan“Desain posternya keren! Mungkin font judulnya bisa sedikit diperbesar?”
Melanggar“Desain kayak gini doang? Anak SD juga bisa.”

Tips: Awali kritik dengan apresiasi yang tulus, lalu sampaikan saran secara spesifik.

Prinsip Kerendahan Hati

Modesty maxim (maksim kesederhanaan)

Kurangi pujian kepada diri sendiri, perbesar kecaman kepada diri sendiri.

Menerapkan“Makasih! Aku juga masih belajar kok, kemarin dibantu banyak sama kalian.”
Melanggar“Ya jelas nilaiku paling tinggi, aku kan memang paling pinter di kelas.”

Tips: Terima pujian dengan terima kasih dan bagikan peran orang lain.

Prinsip Permufakatan

Agreement maxim (maksim kecocokan)

Kurangi ketidaksetujuan dengan orang lain, perbesar persetujuan.

Menerapkan“Ide kamu masuk akal. Gimana kalau kita gabung sama usulan Rina juga?”
Melanggar“Salah total. Ide kamu nggak ada gunanya.”

Tips: Cari titik temu dulu sebelum menyampaikan perbedaan pendapat.

Prinsip Kesimpatisan

Sympathy maxim (maksim simpati)

Kurangi antipati terhadap orang lain, perbesar simpati kepada orang lain.

Menerapkan“Turut sedih dengar kabarnya. Kalau butuh teman cerita, chat aku aja ya.”
Melanggar“Gitu doang sedih, lebay banget sih.”

Tips: Tunjukkan empati saat teman mendapat musibah dan ikut senang saat ia berhasil.

Uji Pemahaman

Tebak strategi, teknik, dan prinsipnya

Pikirkan jawabanmu dulu, lalu buka pembahasannya. Cocok sebagai bahan diskusi di kelas.

1 “Boleh pinjam catatan Biologi kamu sebentar? Nanti aku fotokopi terus langsung balikin.” Lihat jawaban

Tidak langsung literal: kalimat tanya yang berfungsi sebagai permintaan. Menerapkan prinsip kebijaksanaan (menjanjikan beban kecil bagi teman).

Bandingkan dengan penilaian tiga model →
2 “Pinter banget ya kamu, sampai remedial tiga kali. 👏” Lihat jawaban

Tidak langsung tidak literal (sarkasme): "pinter" bermakna sebaliknya. Melanggar prinsip penghargaan.

Bandingkan dengan penilaian tiga model →
3 “Selamat ya juara lomba debat! Kamu memang pantas, latihannya serius banget.” Lihat jawaban

Langsung literal. Menerapkan prinsip penghargaan dan kesimpatisan (ikut senang atas keberhasilan teman).

Bandingkan dengan penilaian tiga model →
4 “Udah, kalian aja yang presentasi, aku kan udah paling banyak kerja.” Lihat jawaban

Langsung literal, tetapi melanggar prinsip kerendahan hati (memuji diri) dan kedermawanan.

Bandingkan dengan penilaian tiga model →
Kaitan dengan BerorNet

Dari teori ke analisis otomatis

Anotasi data. Ribuan unggahan Gen-Z diberi skor kesantunan oleh anotator berdasarkan ancaman muka dan strategi yang dipakai, lalu dipakai melatih BERT, RoBERTa, dan XLNet.

Ujaran tidak literal paling sulit. Sarkasme dan sindiran adalah sumber utama perbedaan pendapat antar-anotator, dan sering membuat ketiga model tidak sepakat.

Gunakan sebagai cermin. BerorNet memprediksi derajat kesantunan, bukan jenis strategi atau prinsipnya. Materi ini membantu siswa menjelaskan mengapa sebuah kalimat terasa santun atau tidak.

Coba di Playground
Rujukan
  • Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: Some universals in language usage. Cambridge University Press.
  • Leech, G. N. (1983). Principles of Pragmatics. London: Longman.
  • Rahardi, R. K. (2005). Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
  • Searle, J. R. (1975). Indirect speech acts. Dalam P. Cole & J. L. Morgan (Ed.), Syntax and Semantics, Vol. 3: Speech Acts. New York: Academic Press.
  • Wijana, I. D. P. (1996). Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.

Materi ini juga tersedia dalam format JSON untuk LMS: GET https://belajarsantun.id/api/v1/guide